Selasa, 24 Juni 2014

BELAJAR DARI LABA-LABA

Dalam perjalanan pulang dari kantor, suatu hari,  kukendarai motor dengan kecepatan sedang. Tanpa sengaja kulihat ada seekor anak Laba-laba kecil, mungkin seukuran kancing baju dan masih berwarna hijau, menempel di spion motor. Entah mengapa, ku agak risih melihat itu dan si Laba-laba kecil kukibas dengan tangan agar menjauh atau bahkan terjatuh.

Namun apa yang terjadi? Si Laba-laba kecil ternyata mengeluarkan benangnya yang sangat lembut, mungkin lebih tipis dari sehelai rambut. Dia berpegang kuat pada sehelai benang tersebut. Semakin kencang kupacu motorku, semakin panjang pula benang si Laba-laba, dan semakin teguh pula dia berpegang dan pantang menyerah. Sampai akhirnya motor terhenti di traffic light dan memaksaku berhenti. Secepat yang ia bisa si Laba-laba memanjat benang dan menempel kembali di spion motor dan kali ini ia ambil tempat yang lebih aman.

 

Seharusnya ini saatnya kalau ku ingin melenyapkan si Laba-laba, tapi urung kulakukan entah karena iba atau lebih tepatnya ku malah berpikir. Seekor Laba-laba kecil..begitu teguhnya ketika mendapat sebuah tantangan dan ia pantang menyerah menghadapinya. Semakin besar tantangan yang dia hadapi semakin teguh pula dia berusaha mengatasinya. Andaikan tadi si Laba-laba menyerah, ia toh akan selamat pula walau terjatuh karena kecilnya dia dan jaring benang yang bisa menyelamatkannya. Tapi, bila ia melakukan itu, dia takkan pernah tahu seberapa besar kemampuan yang ia miliki untuk mempertahankan diri dalam hal ini adalah kekuatan benangnya.

Demikian, kadang kita sebagai manusia, terlalu gampang menyerah dalam mengoptimalkan kemampuan diri dalam entah dalam belajar, bekerja, atau dalam situasi apapun. Kita merasa tidak mampu, meski kita sebenarnya belum melakukan usaha maksimal kita dan lebih parahnya menyalahkan takdir. Disini kita belajar, dari seekor Laba-laba kecil, yang pantang menyerah dalam menghadapi cobaan hidup. Bagaimana dengan kita? Seorang insan manusia, makhluk paling sempurna yang dibekali akal dan fikir dari sang Pencipta? Mari renungkan ...

Terima kasih...

Minggu, 15 Juni 2014

Toko KALIFA dibuka



Kisah Petani, Pengendara Motor, dan Pengendara Mobil

Seorang petani dan istrinya bergandengan tangan menyusuri jalan sepulang dari sawah yang pada saat itu diguyur hujan. Tak lama berselang, sepasang suami istri berboncengan sepeda motor melaju melewati mereka dan sang istri petani berkata:
"Lihat pak.., betapa bahagianya suami-istri yang naik motor itu, meski kehujanan, mereka bisa segera cepat sampai ke rumah tanpa kelelahan.."

Sementara itu, di saat yang sama, pengendara motor dan istrinya yang sedang berboncengan di bawah derasnya hujan melihat sepasang suami-istri di dalam mobil sedan mendahului mereka. Sang istri pun berkata:
"Lihat pak.., betapa bahagianya orang yang naik mobil itu, mereka bisa melaju santai di bawah derasnya hujan tanpa perlu kebasahan.."

Sebaliknya, sepasang suami-istri di dalam mobil sedan ketika melewati sawah dan melihat suami-istri yang sedang berjalan di bawah guyuran hujan, sang pria di dalam mobil berkata:
"Lihat bu.., betapa bahagia dan mesranya mereka, meskipun sudah bukan remaja pacaran lagi, tapi mereka bergandengan tangan di bawah guyuran hujan, menyusuri jalan pedesaan yang indah, pulang sambil bercengkerama bersama di bawah hujan, mesra sekali..Sementara kita sudah terlalu sibuk oleh pekerjaan hingga tak bisa melakukan itu.."

Hikmah:
Kebahagiaan tak kan diperoleh dengan membandingkan hidup kita dengan orang lain, Allah telah memberikan kebahagiaan kepada kita masing-masing dengan cara yang berbeda..maka, bersyukurlah...